Saya miris jujur sangat miris dan prihatin....
Gejolak dalam hati saya terasa menyakitkan ketika membaca banyak orang menghujat seorang Susi Pudjiastuti, hanya karena beliau lulusan SMP, bertato, mengecat rambutnya, merokok di depan umum dianggap tidak kompeten menjadi seorang menteri.
Pikiran saya mengingat percakapan dengan kakak ipar saya yg lulusan SD namun bisa menjadi pengusaha besar di bidang pemotongan ayam.
Pada saat itu, kakak saya ini menjelaskan tentang seluk beluk berbisnis kepada suami yg sedang belajar, cara penjelasannya sungguh matang meskipun tidak dengan menggunakan bahasa ekonomi yang dikenal di kalangan akademisi.
Sungguh saya sangat takjub, bagaimana kakak bisa menunjukkan ini itu dengan bahasa "orang awam" tapi jadi bisa dimengerti kami yang bukan berlatar belakang ekonomi.
Namun pada saat itu kakak bilang begini, "kalau saya kan belajarnya puluhan tahun baru bisa mencapai seperti sekarang ini, kalian2 yang sudah mengenyam pendidikan tinggi seharusnya bisa speed up the process. Sungguh saya menyadari keterbatasan pendidikan, namun saya memiliki pegawai dengan pendidikan tinggi untuk membantu saya menerjemahkan dengan dunia modern."
Beliau inilah yang menginspirasi saya bahwa seorang berpendidikan tinggi pada akhirnya akan dihadapkan pada dunia nyata dan disanalah kita akan di tantang untuk mengaplikasikan apa yang sudah di dapat, dan bagaikan seorang peneliti akan ada trial and error sehingga kita bisa menyempurnakan apa yg sudah di dapat.
Pendidikan itupun sebenarnya di bentuk dari pemikiran2 orang yang sudah berkecimpung dulu di dunia tersebut dalam waktu lama, jadi sebenarnya dari trial and error, kita saja yang lebih enak karena pendidikan sudah tersusun rapi seperti sekarang ini.
Lalu kenapa Susi Pudjiastuti?
Bahkan ada yang mengatakan, "come on dari 250jt rakyat Indonesia masa ga ada yg lebih kompeten dari Susi?"
So what is your problem with Susi?
Is it because her style? Or her education?
Jikalau karena edukasi, baca artikel saya di atas, orang berpendidikan itu kalah dengan orang berpengalaman. Orang berpendidikan tapi tdk bisa membawa kemaslahatan umat dan malah membawa keburukan lebih memalukan daripada orang tdk berpendidikan tinggi namun belajar dari pengalaman sebagai bagian edukasinya dan menjadikannnya kemaslahatan bagi umat. This is not something you read, but something you acchieved.
Jika memang karena style dia, so what?
Is it not like she is nude in front of people, she is still eastern people, it is just her style is different.
Kalau anda bilang dia kan muslim bla bla bla, hal ini akan merusak aqidah.
Coba anda runtut ke belakang, Sri Mulyani, tidak berjilbab tapi anda diam saja karena dia lebih "pantas" secara style bagi anda untuk di tunjukkan di panggung hiburan politik kita, untungnya Sri Mulyani adalah orang yg kompeten di bidangnya.
Kemudian Ratu Atut, beliau berjilbab, santun, tapi tidakkah kalian lihat, alisnya di tato, melakukan operasi wajah! oh oh sebentar, bukankah dalam islam hal itu dilarang?? tapi anda diam saja bukan? karena secara penampilan lebih pantas di tunjukkan di sinetron politik kita.
Merokok? beliau ini sebenarnya tidak merokok di depan umum, tapi di pinggir, tapi kamera menangkapnya dan mewawancarainya sehingga terbentuk opini se akan akan dia tdk memiliki etika, jadi contohnya nanti ketika dia menggelar rapat dengan bawahannya bisa merokok di ruangan, oh come on, she is not that stupid!
Dan kenapa menurut anda merokok hanya pantas untuk laki2? merokok itu tidak pantas untuk kesehatan, bukan style! Dan jikalau anda takut keluarga kita mengikuti, jangan salahkan ibu susi dong, di mall2, di jln2, sinetron2 yang anda tonton secara tdk langsung sudah mengajarkan itu, jangan pernah menyalahkan orang lain karena kegagalan anda.
Tulisan saya ini tidak sedang membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, dan juga saya bukan seorang feminist! (ask my husband about this and he will tell you who I am)
Bahkan saya tidak sedang memporak porandakan aqidah. Please saya ini orang muslim, yang bisa saya lakukan untuk ibu susi adalah mendoakan beliau, semoga kebiasaan merokok itu dihilangkan supaya beliau sehat, dan semoga ada waktu ketika beliau pada akhirnya memakai jilbab dan menghapus tatonya, karena biasanya orang2 seperti ini akan lebih kaffah menjalankan ibadahnya ketika tersadar, daripada saya yang lulusan madrasah masih labil dalam beragama karena tdk ada proses pencarian yg ada di cekokin a-z ttg baik dan buruk.
Pada akhirnya saya ingin mengatakan dalam hati saya yang paling dalam :
"dont be too melodramatic with this situation and dont be hypocrite"
Just let her work, let's work!
Jakarta
In front of my desk
No comments:
Post a Comment