Semalam, sepulang dari kantor dalam perjalanan pulang, tiba2 ada sebuah tangan keluar dari angkot dan melempar kotak bekas minuman teh botol ke jalan raya.
Sontak saya kaget karena hampir mengenai saya (yang lagi mengendarai sepeda motor).
Kemudian dalam perjalanan pagi yang tenang di dalam shuttle, seperti biasa pak supir memutar radio dan mengarahkan ke jak fm. Topiknya sama dengan kejadian saya semalam yaitu budaya membuang sampah sembarangan yang sudah mengakar. Solusinya selalu sama, masih terdengar retorika ya, "kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan". Pertanyaannya "bagaimana"?
Pengamatan saya belakangan ini melihat bagaimana peran media dalam mempengaruhi opini masyarakat sangat besar, terutama bagaimana bangsa kita yang masih baru belajar demokrasi tiba2 sering berkomentar bak pakar politik di media sosial. Ada yang menghujat, ada yang jadi penggemar buta, ada yang bijak dll. Intinya, masyarakat kita memang sedang belajar, dan proses belajar itu akan membentuk pendewasaan bangsa dalam memandang politik (atau saya harap demikian).
Lalu apa hubungan dengan budaya membuang sampah sembarang bangsa kita?
Pendekatan dalam renungan saya pagi ini adalah lebih ke efisiensi media sebagai pembentuk opini masyarakat.
Apa jadinya jika media memberikan banyak iklan mengenai buruknya budaya membuang sampah sembarangan, sesering mungkin. Seperti bagaimana media korea utara yang menanamkan komunisme kepada masyarakatnya.
Memang saya tidak setuju jikalau kebebasan jurnalisme di kekang, namun asal tidak kebablasan dan tidak menjadikan hal2 buruk sebagai pendongkrak penjualan media (contoh : berita2 kesialan bangsa kita, sinetron, gosip artis).
Saya bermimpi jika saja setiap saya menonton tv lokal isinya kehebatan2 bangsa kita apapun bentuknya, bukan hanya berita kebakaran, kecelakaan, korupsi, gosip artis dll yang isinya negatif.
Saya bermimpi jika saja media kita berisi berita positif yang membangkitkan semangat, pelajaran2 seperti budaya antri, membuang sampah pada tempatnya, giat bekerja, pasti negara kita lebih cepat bangkit dan maju.
Dulu saya berpikir bahwa dengan semakin tinggi ilmu dan sejahteranya bangsa kita, budaya membuang sampah akan berkurang.
Nyatanya tidak.
Sepanjang perjalanan menggunakan mobil, saya melihat bahwa mobil2 mewah pun, tak lepas melempar sampah sembarangan di dalam toll. Bagaimana bisa?
Karena sudah terbentuk dari kecil, orang tua tidak memberikan contoh yang baik sehingga perilaku ini akan turun temurun.
Bagi saya satu2 nya jalan yang efektif adalah pemerintah melalui dinas sosial memberikan kampanye positif untuk bangsa kita, dalam hal apapun supaya harkat martabat bangsa kita tidak terus menerus masuk kedalam nilai2 buruk yang sudah menancapkan akarnya sejak lama.
Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa besar, menghilangkan sifat malas, bekerja keras menjadi lebih baik.
No comments:
Post a Comment