Pemilihan presiden semakin dekat, tapi iklannya sudah bisa dilihat dari tahun jebat.
Eneg? yep betul sekali.
Kesal? banget.
Kenapa?
Ada banyak hal yang saya sesalkan dari pemilihan presiden :
1. Prabowo : calon presiden yang satu ini adalah ketua pembina petani, namun petani indonesia banyak yang tidak makmur (mertua saya petani, jadi setiap keluh kesah beliau sebagai petani pasti saya dengar lah, jadi ga usah alesan sudah begini begitu, karena kalau saya warga yang bodoh ini cukup melihat parameter dari penuturan bapak saya), plus Indonesia masih menjadi negara pengimpor pangan bukan swasembada pangan lagi. Jadi kalau dia mau mengubah indonesia kenapa tidak dari dulu? Kenapa anda pak beriklan di media bertahun-tahun? kenapa uang iklan tidak anda sumbangkan untuk kegiatan sosial dan memajukan Indonesia apapun itu bentuknya, lalu biarkan masyarakat menilai kinerja anda apakah anda layak jadi presiden yang tanpa pamrih.
Lha kalau sekarang? untuk alasan apa saya memilih anda? lupakan saja masalah th 1998, dari satu contoh saja saya rasa tidak layak seseorang yang pamrih dan menginginkan kekuasaan memimpin Indonesia (IMHO)
2. Jokowi : sebenarnya pemimpin yang satu ini bagus, namun saya kecewa sekali kita beliau ini malah maju sebagai calon presiden sementara kepemimpinan jakarta belum genap satu tahun. Kenapa anda tidak menyelesaikan masalah Jakarta kemudian biarkan masyarakat menilai anda layak atau tidak.
Oke ada beberapa yang mengatakan sekalian saja jadi presiden sehingga lebih mudah memperbaiki birokrasi seluruh Indonesia sampai ke akarnya, karena kalau jadi gubernur ruang gerak masih sempit plus nantinya kalau bukan jokowi, siapa yang layak jadi presiden?
Baiklah, saya paham, tapi satu hal yg saya tidak paham, anda pak jokowi sudah berjanji kepada warga jakarta dan sekarang anda meninggalkannya sehingga anda berhutang permintaan maaf kepada kami. Satu permintaan maaf saja sebenarnya sudah cukup, tapi kapan?
Wakilnya? saya tidak berminat membahasnya, karena bukan tipe pemimpin yang langsung action dan berani mendobrak birokrasi. Kecuali pak JK mungkin?
Lupakan Rhoma Irama dan mimpinya, lupakan ARB dan apa kabar lumpur lapindonya, lupakan Mahfud MD yang....aargggh (padahal saya menyukai tulisannya, tapi ternyata?).
Kemudian saya memandang sosok Anis Baswedan yang memberikan pemikiran paling tidak bahwa jangan memilih pemimpin yang sudah jelas pamrihnya, tidak bertindak nyata, visi misi berlebihan yang hanya sebatas retorika.
Bagi saya mungkin yang terbaik dari yang buruk adalah Jokowi-JK, meskipun saya hanya hanya bisa berharap.
Dan sebagai warga negara Indonesia yang baik adalah terus bekerja supaya tidak menjadi beban negara baik dari sekarang maupun nanti.
Syukur2 saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan meskipun masih dalam angan2.
Semoga Indonesia semakin maju.
(Tulisan ini hanyalah apa yang saya pendam selama ini sebagai warga biasa, tidak ada unsur saling mempengaruhi, karena pemilu adalah hak setiap warga negara Indonesia)
No comments:
Post a Comment