Wednesday, June 25, 2014

Mental mental bangsaku tercinta

Semalam, sepulang dari kantor dalam perjalanan pulang, tiba2 ada sebuah tangan keluar dari angkot dan melempar kotak bekas minuman teh botol ke jalan raya.
Sontak saya kaget karena hampir mengenai saya (yang lagi mengendarai sepeda motor).

Kemudian dalam perjalanan pagi yang tenang di dalam shuttle, seperti biasa pak supir memutar radio dan mengarahkan ke jak fm. Topiknya sama dengan kejadian saya semalam yaitu budaya membuang sampah sembarangan yang sudah mengakar. Solusinya selalu sama, masih terdengar retorika ya, "kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan". Pertanyaannya "bagaimana"?

Pengamatan saya belakangan ini melihat bagaimana peran media dalam mempengaruhi opini masyarakat sangat besar, terutama bagaimana bangsa kita yang masih baru belajar demokrasi tiba2 sering berkomentar bak pakar politik di media sosial. Ada yang menghujat, ada yang jadi penggemar buta, ada yang bijak dll. Intinya, masyarakat kita memang sedang belajar, dan proses belajar itu akan membentuk pendewasaan bangsa dalam memandang politik (atau saya harap demikian).

Lalu apa hubungan dengan budaya membuang sampah sembarang bangsa kita?
Pendekatan dalam renungan saya pagi ini adalah lebih ke efisiensi media sebagai pembentuk opini masyarakat.
Apa jadinya jika media memberikan banyak iklan mengenai buruknya budaya membuang sampah sembarangan, sesering mungkin. Seperti bagaimana media korea utara yang menanamkan komunisme kepada masyarakatnya.
Memang saya tidak setuju jikalau kebebasan jurnalisme di kekang, namun asal tidak kebablasan dan tidak menjadikan hal2 buruk sebagai pendongkrak penjualan media (contoh : berita2 kesialan bangsa kita, sinetron, gosip artis).
Saya bermimpi jika saja setiap saya menonton tv lokal isinya kehebatan2 bangsa kita apapun bentuknya, bukan hanya berita kebakaran, kecelakaan, korupsi, gosip artis dll yang isinya negatif.
Saya bermimpi jika saja media kita berisi berita positif yang membangkitkan semangat, pelajaran2 seperti budaya antri, membuang sampah pada tempatnya, giat bekerja, pasti negara kita lebih cepat bangkit dan maju.

Dulu saya berpikir bahwa dengan semakin tinggi ilmu dan sejahteranya bangsa kita, budaya membuang sampah akan berkurang.
Nyatanya tidak.
Sepanjang perjalanan menggunakan mobil, saya melihat bahwa mobil2 mewah pun, tak lepas melempar sampah sembarangan di dalam toll. Bagaimana bisa?
Karena sudah terbentuk dari kecil, orang tua tidak memberikan contoh yang baik sehingga perilaku ini akan turun temurun.

Bagi saya satu2 nya jalan yang efektif adalah pemerintah melalui dinas sosial memberikan kampanye positif untuk bangsa kita, dalam hal apapun supaya harkat martabat bangsa kita tidak terus menerus masuk kedalam nilai2 buruk yang sudah menancapkan akarnya sejak lama.

Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa besar, menghilangkan sifat malas, bekerja keras menjadi lebih baik.

Monday, June 2, 2014

Calon presiden dalam pemikiran saya yang sederhana

Pemilihan presiden semakin dekat, tapi iklannya sudah bisa dilihat dari tahun jebat.
Eneg? yep betul sekali.
Kesal? banget.
Kenapa?
Ada banyak hal yang saya sesalkan dari pemilihan presiden :
1. Prabowo : calon presiden yang satu ini adalah ketua pembina petani, namun petani indonesia banyak yang tidak makmur (mertua saya petani, jadi setiap keluh kesah beliau sebagai petani pasti saya dengar lah, jadi ga usah alesan sudah begini begitu, karena kalau saya warga yang bodoh ini cukup melihat parameter dari penuturan bapak saya), plus Indonesia masih menjadi negara pengimpor pangan bukan swasembada pangan lagi. Jadi kalau dia mau mengubah indonesia kenapa tidak dari dulu? Kenapa anda pak beriklan di media bertahun-tahun? kenapa uang iklan tidak anda sumbangkan untuk kegiatan sosial dan memajukan Indonesia apapun itu bentuknya, lalu biarkan masyarakat menilai kinerja anda apakah anda layak jadi presiden yang tanpa pamrih.
Lha kalau sekarang? untuk alasan apa saya memilih anda? lupakan saja masalah th 1998, dari satu contoh saja saya rasa tidak layak seseorang yang pamrih dan menginginkan kekuasaan memimpin Indonesia (IMHO)
2. Jokowi : sebenarnya pemimpin yang satu ini bagus, namun saya kecewa sekali kita beliau ini malah maju sebagai calon presiden sementara kepemimpinan jakarta belum genap satu tahun. Kenapa anda tidak menyelesaikan masalah Jakarta kemudian biarkan masyarakat menilai anda layak atau tidak.
Oke ada beberapa yang mengatakan sekalian saja jadi presiden sehingga lebih mudah memperbaiki birokrasi seluruh Indonesia sampai ke akarnya, karena kalau jadi gubernur ruang gerak masih sempit plus nantinya kalau bukan jokowi, siapa yang layak jadi presiden?
Baiklah, saya paham, tapi satu hal yg saya tidak paham, anda pak jokowi sudah berjanji kepada warga jakarta dan sekarang anda meninggalkannya sehingga anda berhutang permintaan maaf kepada kami. Satu permintaan maaf saja sebenarnya sudah cukup, tapi kapan?

Wakilnya? saya tidak berminat membahasnya, karena bukan tipe pemimpin yang langsung action dan berani mendobrak birokrasi. Kecuali pak JK mungkin?
Lupakan Rhoma Irama dan mimpinya, lupakan ARB dan apa kabar lumpur lapindonya, lupakan Mahfud MD yang....aargggh (padahal saya menyukai tulisannya, tapi ternyata?).

Kemudian saya memandang sosok Anis Baswedan yang memberikan pemikiran paling tidak bahwa jangan memilih pemimpin yang sudah jelas pamrihnya, tidak bertindak nyata, visi misi berlebihan yang hanya sebatas retorika.

Bagi saya mungkin yang terbaik dari yang buruk adalah Jokowi-JK, meskipun saya hanya hanya bisa berharap.
Dan sebagai warga negara Indonesia yang baik adalah terus bekerja supaya tidak menjadi beban negara baik dari sekarang maupun nanti.
Syukur2 saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan meskipun masih dalam angan2.

Semoga Indonesia semakin maju.


(Tulisan ini hanyalah apa yang saya pendam selama ini sebagai warga biasa, tidak ada unsur saling mempengaruhi, karena pemilu adalah hak setiap warga negara Indonesia)