Saya tidak pernah berharap kalau film ini akan menyamain versi broadway nya. Meskipun sebenarnya saya belum pernah menyaksikan pertunjukan musical broadway.
Melihat versi film ini jauh lebih baik daripada pendahulunya ( Les Miserables 1998 movie ), kepuasan menonton 3 jam musical film yang diangkat dari Novel Victor Hugo bagaikan tiada akhir. Tiap adegan, tiap percakapan dilakukan dengan nyanyian.
Tiga jam film memang menjelaskan lebih detail dibandingkan sebelumnya, siapa sebenarnya Marius Portmency, juga ada keterlibatan Eponine, yang di versi 1998 tidak dimasukkan sama sekali.
Satu2 nya hal yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah kenapa Helena Bonham Carter dan Sacha Baron Cohen? sebagai seorang Thernadier, mereka sangat Inggris, logatnya kental sekali.
Kenapa tidak bisa menghilangkan logat itu seperti yang bisa dilakukan Eddie Redmayne?
Lagipula, Helena Bonham Carter kurang bagus suaranya, menilik performance dia di Sweeney Todd, kualitas vocalnya masih belum berubah.
Paling tidak saya baru tahu kalau Hugh Jackman itu sopranos, kaget sekali ketika dia menyanyikan salah satu lagu dengan suara sopran nya. Maka tidak salah jikalau dia diganjar Golden Globe untuk pemeran utama pria.
Sedangkan Anne Hathaway? meskipun porsinya sedikit...saya hanya bisa mengatakan "wow!" Dia sungguh menghidupkan seorang Fantine dan bagaimana getirnya kehidupan yang dia alami.
Kedua....kenapa Amanda Seyfried? aktingnya bagi saya untuk film serius semacam Les Miserables, kurang cocok. Jujur, saya lebih suka Cosette di perankan Claire Danes. Namun, menilik porsi untuk Amanda Seyfried sedikit, jadi tidak terlalu mengganggu.
Ketiga....Russel Crowe, bagi saya, Javert adalah sosok penegak hukum yang tidak bisa menunjukkan emosi kepada siapapun karena bagi dia semua harus tunduk dengan hukum tidak peduli apapun alasannya, dan peran ini memang paling cocok diperankan sama Geoffrey Rush. Russel Crowe bernyanyi sangat bagus, namun dia lebih emosional ketika memerankan Javert.
Overall, excellent movie...applaus for Eddie Redmayne and Anne Hathaway....standing ovation for Hugh Jackman.
Monday, January 28, 2013
Wednesday, January 9, 2013
"She tells the truth", books by Marjane Satrapi
Pertama kali tau buku Marjane Satrapi adalah ketika saya sama adek pergi ke bazar buku bekas dan dia tertarik sama satu buku ini, sementara saya tidak.
Tapi sesampainya di rumah, buku bekas yang judulnya Embroidery ini malah saya yang baca duluan.
Kisah mengenai sekumpulan wanita Iran berkumpul, minum teh dan bergosip. Bukunya sendiri adalah ilustrasi, jadi bergambar semua. Nenek marji (ne Marjani Satrapi), yang ternyata sudah pernah menikah sampai 3 kali, kemudian tetangga2 nya yang kelihatan hidup bahagia ternyata tidak. Ada juga kisah perselingkuhan dll. Sedangkan marji kecil hanya bisa mendengarkan sembari sesekali mengomentari obrolan mereka.
Kemudian ada persepolis 1 & 2. Buku ilustrasi mengenai kisah perjalanan marji kecil yang tumbuh di Iran. Bagaimana pergolakan Iran menyebabkan hidup gadis kecil ini berubah.
Keingintahuan seorang anak kecil dibarengi dengan komunikasi marji dengan Tuhan setiap malam, membuat buku ini menarik dan terkadang lucu. Konflik yang terjadi di Iran juga memberikan warna, terkadang ada bagian sedih ketika pamannya jadi korban politik dan dikuburkan di kuburan massal.
Persepolis 2 adalah bagian ketika dia dikirim orang tuanya ke luar negeri karena kondisi politik di sana tidak memungkinkan. Disinilah kehidupan marji remaja dihadapkan pada bebasnya budaya barat, sedangkan marji dibesarkan dengan adat Iran yang lebih konvensional.
Overall, membaca buku ini mengingatkan akan gaya penulisan NH Dini di buku2 biografinya. Cerdas, lugas, terkadang gaya menyindirkan membuat tersenyum dan ceritanya mengalir.
Yang jelas, meskipun terdapat kontroversi buku Persepolis dia, bagi saya Marjane Satrapi Tells the truth.
Tapi sesampainya di rumah, buku bekas yang judulnya Embroidery ini malah saya yang baca duluan.
Kisah mengenai sekumpulan wanita Iran berkumpul, minum teh dan bergosip. Bukunya sendiri adalah ilustrasi, jadi bergambar semua. Nenek marji (ne Marjani Satrapi), yang ternyata sudah pernah menikah sampai 3 kali, kemudian tetangga2 nya yang kelihatan hidup bahagia ternyata tidak. Ada juga kisah perselingkuhan dll. Sedangkan marji kecil hanya bisa mendengarkan sembari sesekali mengomentari obrolan mereka.
Kemudian ada persepolis 1 & 2. Buku ilustrasi mengenai kisah perjalanan marji kecil yang tumbuh di Iran. Bagaimana pergolakan Iran menyebabkan hidup gadis kecil ini berubah.
Keingintahuan seorang anak kecil dibarengi dengan komunikasi marji dengan Tuhan setiap malam, membuat buku ini menarik dan terkadang lucu. Konflik yang terjadi di Iran juga memberikan warna, terkadang ada bagian sedih ketika pamannya jadi korban politik dan dikuburkan di kuburan massal.
Persepolis 2 adalah bagian ketika dia dikirim orang tuanya ke luar negeri karena kondisi politik di sana tidak memungkinkan. Disinilah kehidupan marji remaja dihadapkan pada bebasnya budaya barat, sedangkan marji dibesarkan dengan adat Iran yang lebih konvensional.
Overall, membaca buku ini mengingatkan akan gaya penulisan NH Dini di buku2 biografinya. Cerdas, lugas, terkadang gaya menyindirkan membuat tersenyum dan ceritanya mengalir.
Yang jelas, meskipun terdapat kontroversi buku Persepolis dia, bagi saya Marjane Satrapi Tells the truth.
Subscribe to:
Posts (Atom)

