Berita rencana kenaikan BBM dan demonstrasi menolak kebijakan tersebut sudah menghiasi tulisan2 di berita beberapa hari ini. Banyak yang pro dan tidak sedikit juga yang kontra.
Yang paling disoroti adalah kepanikan warga akan adanya demo besar yang berakhir anarkis.
Saya suka mengamati tulisan, komentar bahkan status beberapa orang yang menulis di media. Intinya bangsa kita tidak puas dengan pemerintah dan banyak yang menghujat. Sedangkan untuk pendemo, karena akhir2 ini banyak berita mengenai demo yang berakhir anarkis dan bahkan sempat ada yang melumpuhkan perekonomian dengan memblokir akses jalan tol.
Saya pendukung demo tapi tidak dengan demo anarkis. Namun secara ada sebagian nurani saya yang setuju dengan tindakan2 demo seperti penutupan akses jalan tol.
Oke, saya sendiri adalah pengguna jalan tol tiap hari, dan suami saya sendiri memiliki bisnis perdagangan yang akhirnya dirugikan karena penutupan akses tol. Lalu kenapa saya setuju? tidak seperti dengan sebagian besar orang?
Bagi saya suara rakyat adalah suara raja, karena rakyatlah yang memilih pemimpin, dan aparatnya di bayar oleh rakyat. Namun penegakan keadilan di Indonesia sangatlah buruk. Saya yakin pendemo sudah melakukan diskusi (menyoroti demo buruh ttg kenaikan upah minimum). Ketika suara mereka tidak didengarkan bahkan keadilan dipermainkan maka penutupan akses tol untuk melumpuhkan kegiatan perekonomian adalah pilihan terakhir dengan hasil akhir adalah "suara mereka didengar".
Kemudian demo kenaikan BBM. Seandainya pemimpin (dalam hal ini presiden) mau melakukan dialog terbuka yang disiarkan langsung dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa, mungkin keadaan tidak akan seekstrim sekarang dimana lebih dari 8000 orang melakukan demonstrasi dan akan dilakukan demo lebih besar lagi.
Saya memang tidak mengetahui anggaran2 negara, namun pemikiran saya sebagai orang awam, dilihat dari penegakan hukum di Indonesia mengenai penanganan koruptor yang tidak jelas, rakyat menganggap bahwa jikalau korupsi di berantas, kemudian anggaran2 itu tidak ada yang bocor, pasti defisit bisa di tekan. Bahkan kompensasi kenaikan BBM dengan memberikan BLT bukanlah kebijakan yang baik, karena pada kenyataannya dijadikan ajang korupsi, kolusi, karena banyak yang butuh malah tidak kebagian. Ini juga membuat bangsa kita menjadi malas. Seharusnya bangunlah Indonesia, buatlah lapangan pekerjaan dengan membuka proyek2 pembangunan. Indonesia butuh bangsa nya untuk bekerja keras, bukan untuk bermalas malas dengan BLT. Kecuali kalau yang diberikan BLT adalah orang2 miskin yang sudah tua yang memang secara tenaga sudah tidak bisa lagi.
Kemudian, bagaimana dengan Oportunis?
Saya hanya menyoroti oportunis2 yang mengomentari beberapa berita dan terkadang membuat status di facebook seperti "ngapain demo, bikin rusuh saja" dll.
Oke, anda mungkin memiliki pendapatan yang tinggi sehingga tidak terlalu merasakan dampaknya. Namun apakah anda tahu bahwa di Indonesia ini masih banyak rakyat miskin dan kurang memiliki kesempatan untuk memperbaiki peruntungannya entah karena terkendala pendidikan dll. Jikalau BBM akhirnya turun, anda senang juga kan? bisa menikmati hasil jerih payah demonstran yang memperjuangkan pembatalan kebijakan ini? Berbaik hatilah dengan lebih melihat kebawah, karena pemimpin kita bukanlah tipikal pemimpin yang mau langsung turun dan melihat sendiri kondisi bangsa kita. Sehingga mau tidak mau bangsa kita harus berteriak supaya aspirasi mereka di dengarkan oleh pemimpin kita yang "mungkin" berpura2 tidak mau mendengarkan saking sudah buta dan tulinya hati nurani.
Oportunis yang kedua adalah segelintir orang (dari partai mungkin) yang memanfaatkan keadaan dengan mendukung pendemo seakan-akan mendukung rakyat, politik pencitraan yang biasa kita lihat ketika sudah mendekati pemilu. Sudahlah, rakyat sudah lelah, kami ini bukan orang bodoh. Mana sih partai yang berani melakukan segala sesuatu Bukan Untuk Partai tapi Untuk Rakyat?
Namun, saya mendoakan negara ini, bangsa ini, termasuk oportunis2 ini untuk segera sadar dan membenahi Indonesia menjadi lebih baik. Saya masih yakin bahwa Indonesia akan menjadi negara besar, bangsa besar.




